Sebagai seorang yang sudah tidak aktif dalam tugas pokok, bagi saya sebagai guru disekolah sungguh merasa kejenuhan bila tidak mempunyai keaktifan sama sekali. Semula saat saya mulai menginjak usia pensiun, saya mulai mereka-reka apa yang aku kerjakan setelah masa pensiun tiba.
Sebagai seorang katekes yang setiap hari mengajar agama, bahkan sampai sore pun masih mengajar para katekumen rasa-rasanya diam dirumah merupakan suatu yang sangat membosankan. Memang saya punya ketrampilan-ketrampilan tertentu yang akan mengisi kekosonganku, misalnya membuat rosario. Padahal sejak kecil sudah dilatih banyak ketrampilan pekerjaan tangan misalnya membuat kopiah dengan hak pen atau brey pen. Selain itu saat saya mengajar di SMP saya banyak belajar otodidak yakni membuat tas dari kulit batang pisang, kardus bekas atau bunga-bunga dari gelas aqua bekas dan sedotan bekas. Hasilnya cukup memuaskan bagi peserta didik. Karena selain hasilnya dapat dinikmati manfaatnya, tapi bagi yang rapi pekerjaannya nilainya juga tidak tanggung-tangung yakni 9 bagi yang pekerjaaannya rapi, warna serasi dan bersih. Sehingga banyak murid yang senang kepada saya. Selain mengajar ketrampilan saya juga mengajar masak. Sebenarnya saya sudah bisa masak sejak kecil, karena kerap membantu orang yang punya kerja, karena jaman saya kecil orang tidak biasa pesan catering tetapi masak rame-rame di rumah yang punya kerja. Sehingga kami yang kecil-kecil banyak menimba pengetahuan dan ketrampilan dengan orang yang sudah pengalaman. Namun pada saat saya harus menggantikan guru tata boga yang naik haji, saya harus menambah pengeahuan dengan membeli resep-resep masakan. Saya pelajari sambil mengajar, hasilnya cukup memuaskan. Karena lidahku cukup peka merasakan enak tidaknya sebuah masakan. Sedangkan keindahan dan keserasian saya nilai berdasarkan cara menghias atau ketrampilan anak dalam menyusun masakan di meja makan. Ternyata jarang sekali dari antara murid-murid yang mendapat nilai 6 rata-rata 7 sampai 9. Karena mereka berlomba-lomba dalam menyusun dan mengolah makanan dengan sebaik-baiknya.
Meskipun kelihatan sangat menyenangkan namun memasak dapat membuat tekanan darahku naik. Bukan karena harus mengicip makanan yang enak-enak, tetapi karena setelah diterangkan dikelas dengan sejalas-jelasnya dan masih ditegaskan siapa yang belum tahu tanya, didalam ruang masak mereka yang terdiri dari 5 kelompok atau 5 regu masih bertanya yang ditanyakan adalah hal - hal yang sangat biasa. Seharusnya mereka sudah biasa kerjakan dirumah saat memasak misalnya : kapan bawang masuk dalam minyak, kapan harus diangkat, bagaimana cara menggoreng dlsb. Saya tdak menyadari kalau orang dari kota kabupaten seperti asalku tidak biasa masak dirumah sendiri seperti saya. Mereka tidak dilatih masak, mereka hanya tahu makan saja, tanpa tahu cara pengolahannya. Suatu ketika saya mengajak mereka membuat ayam goreng dengan diberi garnis / atau hiasan. Yang saya minta adalah slada, tomat, timun, cabe merah. Yang mereka bawa slada air yang kecil-kecil, cabe mereh kecil-kecil. akibatnya tak dapat dipakai untuk hiasan. Karena slada air bukan untuk hiasan, tetapi hanya direbus dan dibuat pecel. Bekal-bekal yang kumiliki inilah yang akan kubawa dimasa pensiun.
Begitu masa pensiun tiba. Saya telah diminta oleh Ps Paroki di Jakarta untuk menjadi ketua seksi katekese, saya jawab siap meskipun saya harus tinggal beberapa lama di rumah sakit karena sakita ambeien . Akhirnya selama 2th saya dapat menjadi seksi katekese. Namun karena rata-rata mereka tidak punya ketrampilan mengajar seperti yang saya harapkan semua saya kerjakan sendiri. Akibatnya banyak yang tidak suka akan sikap saya yang single filter. Akhinrnya saya diberhentikan sebagai seksi katekese. Saya akui saya punya target seperti teman-teman katekis di Tegal yang rata-rata Sarjana katekese, sementara di Jakarta hanya kursus kitab Suci. Setelah berhenti dari seksi katekese saya hanya pastoral orang sakit dan memberi pendalaman di lingkungan sendiri, sambil membuat rosario. Memang sangat membosankan. Akhinrya saat ini saya baru sadar bahwa sayapun punya bakat menulis. Saya mulai menuliskan pengalaman-pengalaman saya dalam bidang akupuntur. Kemudian setiap ada pengalaman lain yang menarik langsung saya tuliskan, ternyata sangat menarik karena banyak yang memberi tanggapan positif. Semoga saya menemukan bakat-bakatku yang masih tersembunyi selain akupuntur, ketrampilan katekese dan mengarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar