Suster PBHK dan Pastor MSC yang kukenal.
Di kotaku yakni dilereng G. Sindoro dan Sumbing dilayani oleh Para Pastor MSC. Saat saya masih kecil saya hanya mengenal satu Tarekat Imam yakni Misionaris Sacro Corde atau MSC. Di kotaku hanya ada satu Paroki yakni St Paulus, terletak di sebelah utara alun-alun Wonosobo. Paroki ini termasuk kuno sudah ada di jaman Belanda, karena sudah ada sejak kakekku masih berdiam di kecamatan Kejajar dibawah lereng pegunungan Dieng. Kakekku hidup sebagai petani tembakau, setiap pagi dia bangun dan mengendarai kuda yang tinggi untuk melihat tembakau dilereng gunung. Beliau mengajari penduduk untuk menanam tembakau kwalitet bagus harus menghadap kematahari, karena daunnya akan tebal dan banyak mengandung nicotine. Karena kesibukannya beliau menitipkan anak-anaknya yang berjumlah 12 orang ke sekolah katolik yakni Pius. Sekolah Pius dikelola oleh Para suster PBHK dan selalu dilayani oleh Pastor MSC, jadi seluruh keluarga mengenal para suster dan Romo MSC, meskipun belum katolik Namun akhirnya 5 orang anak dari kakek menjadi pengikut Kristus KTP. Semula aktif menggereja, namun karena pergaulan dan juga sekolah negeri pendidikan iman kurang. Terakhir saya mulai mengenal Gereja katolik karena Mamaku yang ingin memberikan pendidikan yang istimewa kepada anak-anaknya. Saya dan adikku mulai disekolah di Pius. Sebenarnya ayahku yang berasal dari Kaliwiro telah lebih dahulu sekolah di Pius, sejak Sr. M.Agustine FDNSC dan Sr. Mariana FDNSC. Karena papaku masih dengan nama China yang agak diucapkan oleh lidah Belanda, papa diganti nama dengan Karel. Papaku sering bercerita tentang para Suster PBHK., menurut papaku Suster selalu disiplin dan pandai bercerita. Papaku sangat lancar berbahasa Belanda karena terlatih dan diwajibkan untuk menggunakan bahasa Belanda atau Holand spriken . Banyak teman-teman papaku yang berhasil menjadi pegawai negeri. Papaku sendiri hanya wiraswasta bersama mamaku. Itulah jasa dari Para Suster FDNSC di Wonosobo, didikan para Suster dikenal juga di daerah Tambi yakni perkebunan teh dan juga sekitarnya, Karena para lurah merasa kurang bila tidak menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah PIUS.
Sekolah katolik satu-satunya yang terkenal di Wonosobo terutama di jaman Belanda. Dan saat saya sekolah Kedisiplinan para pendidik yang menyebabkan siswa-siswanya cukup pandai dan tertib. Saya sangat merasakan kedisiplinan para guru yang tidak diracuni oleh bisnis, dan membolos untuk mencari tambahan gaji. Meskipun saat itu guru-guru Negri sudah biasa memulangkan anak-anak untuk mencari tembahan gaji.
Kekatolikan sungguh tertanam dihati para guru dan itulah yang ditularkan kepada para murid di sekolah katolik. Saat ini jaman kejayaan Misi telah agak pudar, karena kurang pekerja yang bersedia untuk ikut menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan..
Siapa yang akan menjadi penerus karya PBHK dan MSC ? Saat ini saya sudah usia 60th dan saya juga ingin ada umat Wonosobo yang rela memberikan anak-anaknya menjadi seorang misionaris dan menjadi garam dan terang di masyarakat.