Sabtu, 06 Agustus 2011

refleksiku

Aku adalah seorang suster Senior. Telah 30 tahun menjadi biarawati PBHK. Sudah mengalami salib banyak sekali dalam hidup membiara. Bahkan sejak Yunior saya sudah mendapatkan salib dari Tuhan, mamah yang kusayangi meninggal saat saya masih tingkat II ST Kat Pradnyawidya. Aku menjadi sangat frustrasi terlebih lagi karena Piko tidak mempercayai tugasku untuk Kuliah Kerja Wilayah sehingga selalu antar jemput. Nilaiku menjadi turun. Aku harus kerja ekstra untuk menaikkan. Akhirnya kuliah dapat kuselesaikan meskipun hanya ipk 3 saja. Selesai kuliah saya masih harus kehilangan lagi. Aku merasakan ketidak berdayaan, diperbolehkan menengok ayah hanya 5 menit, sementara ayah ingin cerita banyak. Tidak sampai 1bln ayahku menyusul mamaku. Hanya selisih 1th 5 bulan. Aku semakin frustrasi, karena masih punya seorang adik wanita belum berkeluarga. Sementara adikku boleh tinggal dibiara karena tak ada teman dirumah. Di rumah biara adikku ternyata sedang dipaksa nikah oleh keluarga ayahku. Untunglah dapat melarikan diri ke biara. Tidak lama kemudian adikku operasi batu empedu. Adikku punya iman yang kuat, maka sebelum operasi diaminta untuk menerima Sakramen orang sakit. Dengan tenang dia operasi. Di dalam rumah biara. Saya harus menerima kenyataan adikku harus pulang rumah karena biara bukan rumahnya. Beberapa waktu kemudian adikku menikah. Ternyata setelah 9 thn adikku juga menyusul kedua orang tuaku dengan meninggalkan 3 orang anak. Untunglah anak yang ke 3 langsung diadopsi oleh sepupuku, sehingga 2 anak kembar yang masih 2 th dapat dipelihara lebih intensif oleh ayahnya. Beberapa tahun kemudian iparku menikah lagi, namun dengan perjanjian istrinya harus tahu bahwa rumah dan toko adalah milik keluargaku. Berkat perjanjian ini saat iparku juga meninggal aku baru tahu kalau istri kedua tidak dinikah sipil, sehingga kerepotan akan merebut harta agak dapat diatasi. Meskipun saya harus dikata-katakan biarawati matrek. Demi 2 anak adikku aku nekat dan akhirnya semua dapat dibereskan dan 2 anak masih punya sedikit modal untuk masa depan. Aku merasakan Tuhan selalu menyertai hidupku tahap demi tahap